Generasi Emas di Tanah yang Gemar Ejekan
dimunikan oleh: Redaksi
Bangga, tapi bingung. Setiap tahun, anak-anak Indonesia menaklukkan panggung dunia. Olimpiade Matematika, Fisika, hingga seni internasional, mereka bawa pulang medali, penghargaan, dan kebanggaan. Tapi, coba tanya ke sekeliling, siapa yang ingat nama mereka? Siapa yang peduli?
Sementara itu, satu seleb TikTok pamer saldo rekening atau drama remehdi media sosial bisa trending seharian.
Ironis? Sudah pasti.
Generasi yang disebut-sebut sebagai “harapan bangsa” justru tenggelam di lautan konten receh. Sementara yang lain sibuk menaklukkan rumus integral dan hukum Newton, sementara kita sibuk scroll-scroll gosip tak penting.
Fenomena brain rot—penurunan kualitas berpikir akibat konsumsi konten dangkal—merajalela. Informasi berharga tersedia, tapi tenggelam oleh algoritma dan terlupakan. Noise over Voice. Pengetahuan dalam satu ketukan, tapi yang diakses malah video 15 detik berisi prank murahan. Distraksi digital menciptakan generasi yang ingin instan, tak sabar membaca lebih dari dua paragraf, dan menganggap viral lebih berharga daripada moral. Bahkan tidak jarang respon para penyelenggara negara juga menunggu viral. No viral, no justice -konon katanya.

Lalu, ada paradoks terbesar: kita selalu bertanya “Kenapa Indonesia tertinggal?” sambil tetap memberi panggung bagi hal-hal yang tak membawa kita ke mana-mana. Kita ingin dihormati di kancah global, tapi lebih senang menertawakan prestasi sendiri.
Jadi, apa yang sebenarnya kita rayakan? Prestasi atau sensasi? Masa depan atau sekadar trending topic? Apakah kita benar-benar ingin maju, atau cukup puas jadi negara dengan warganet paling berisik, paling cepat lupa, dan paling senang membully anak bangsa sendiri?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “Kenapa mereka bisa juara?” dan mulai bertanya “Kenapa kita tak pernah benar-benar peduli?” []