Menahan Lapar, Menahan Belanja, Menahan Napas dalam ‘Keyakinan’ Ekonomi Pemerintah Indonesia
dimunikan oleh: Gagas Gayuh Aji
Ramadan selalu menjadi bulan refleksi, tetapi tahun ini lebih dari sekadar introspeksi spiritual. Masyarakat tak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan konsumsi, menekan belanja, dan meredam ketakutan akan masa depan ekonomi. Rupiah yang terus melemah hingga Rp16.543 per dolar AS, inflasi yang merangkak naik, serta harga kebutuhan pokok yang semakin tidak terkendali menciptakan situasi di mana “berbuka puasa” tidak lagi terasa sebagai pelepas dahaga, tetapi sebagai pengingat bahwa kantong semakin kosong.
Di tengah kegelisahan ini, pemerintah tetap optimistis. Dana Anagata Nusantara (Danantara), sovereign wealth fund yang diluncurkan pada 24 Februari 2025, diklaim akan menjadi tumpuan baru bagi ekonomi Indonesia. Dengan modal awal US$20 miliar dan proyeksi aset mencapai US$900 miliar, Danantara digadang-gadang mampu menarik investasi, mempercepat hilirisasi sumber daya alam, dan memperkuat ketahanan pangan serta energi.

Pemerintah sangat yakin.
Keyakinan ini bukan sekadar optimisme biasa, tetapi sebuah pertaruhan besar. Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% per tahun, dengan asumsi bahwa Danantara mampu menarik investasi global seperti yang dilakukan Temasek Holdings di Singapura.
Tetapi, di balik janji-janji ini, ada satu pertanyaan besar yang belum terjawab: jika ekonomi memang sekuat itu, mengapa masyarakat masih harus mengencangkan ikat pinggang?
Ironi Optimisme dan Realitas Ekonomi
Di dunia internasional, ekonomi tidak sedang baik-baik saja. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,7% pada 2025, lebih buruk dari 2,6% pada 2024. IMF memperkirakan stagnasi di kisaran 3,2%, menandakan bahwa dunia masih terjebak dalam ketidakpastian yang berkepanjangan. Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan $98,4 miliar, China menghadapi ancaman deflasi karena masyarakatnya menahan konsumsi, Jepang mulai kewalahan dengan inflasi 3%, dan Jerman—motor ekonomi Eropa—mengalami kontraksi -0,3%.
Jika negara-negara besar sedang goyah, bagaimana mungkin Indonesia bisa melaju tanpa hambatan? Rupiah terus melemah, harga pangan naik, dan daya beli masyarakat terus tergerus. Apakah Danantara benar-benar bisa menjadi solusi, atau justru akan menjadi beban baru yang menambah utang dan mempersulit stabilitas ekonomi?

Spekulasi, Keyakinan, atau Ilusi?
Fitch Ratings sudah mengingatkan bahwa Danantara bisa menjadi risiko bagi BUMN, terutama jika perusahaan-perusahaan negara dipaksa menopang sovereign wealth fund ini tanpa perhitungan matang. Kekhawatiran terhadap potensi korupsi dan pengelolaan yang tidak transparan juga tidak bisa diabaikan, mengingat sejarah panjang mismanajemen dana publik di Indonesia.
Namun, di sisi lain, ada juga kemungkinan bahwa spekulasi pemerintah benar.
Jika Danantara dikelola dengan baik, Indonesia memang bisa menarik lebih banyak investasi asing dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Tetapi, pertanyaannya tetap sama: apakah ini perhitungan strategis atau sekadar optimisme tanpa landasan kuat?
Masyarakat kini berada di antara harapan dan kenyataan yang belum pasti. Ramadan kali ini bukan hanya tentang berpuasa dalam arti menahan diri, tetapi juga tentang menunggu dan melihat—menunggu apakah ekonomi akan pulih, atau justru semakin melemah setelah Lebaran.
Sebab, dalam dunia ekonomi, mereka yang berspekulasi dengan perhitungan yang tepat bisa menjadi pemenang. Tetapi mereka yang hanya berpegang pada keyakinan tanpa kesiapan bisa terjebak dalam ilusi optimisme yang berbahaya. Kita lihat saja.[]