Mahasiswa S3 FKM Unair Kembangkan Model Komunikasi Tokoh Agama untuk Cegah Kehamilan Remaja

Oleh : Ashriady ( Mahasiswa S3 FKM Universitas Airlangga )
Surabaya — Masa remaja adalah periode emas dalam pengembangan potensi. Di sisi lain pada masa ini menghadapi masalah yang berkaitan kesehatan reproduksi tepatnya kehamilan di usia muda. Dimana secara global dan nasional menunjukkan angka ASFR umur 15 – 19 tahun masih cukup tinggi. Menurut data UNICEF, tahun 2021 sebesar 42,5 kelahiran per 1000 wanita di dunia sedangkan menurut BPS, tahun 2023 sebesar 26,6 per 1000 wanita di Indonesia.
Kondisi ini akan berisiko meningkatkan kelahiran prematur, BBLR dan pendarahan persalinan. Selain itu muncul konsekuensi sosial seperti status yang rendah, stigma pelecehan, serta terputusnya pendidikan. Salah satu faktor yang disinyalir cukup kuat mempengaruhi kehamilan remaja adalah penggunaan media online berisiko yang jauh dari kontrol orang tua dan nilai-nilai agama.
Hal inilah yang mendorong Ashriady, salah seorang mahasiswa S3 FKM Universitas Airlangga untuk meneliti hal tersebut melalui pendekatan tokoh agama. Tokoh agama dalam konteks penelitian ini berperan sebagai opinion leaders (pemuka pendapat) yang diharapkan dapat menafsirkan atau menyaring informasi dari media sosial sebelum sampai kepada remaja.
Penelitian ini mengembankan model COM-B (Capability, Opportunity, Motivation-Behavior) oleh Michie et al. (2011) dengan menambahkan variabel pengalaman pribadi (personal experience) dan penghargaan (reward). Temuan penelitian ini memperkaya model COM-B sehingga lebih relevan dengan konteks sosial budaya dan lebih mendalam dalam memahami peran tokoh agama dalam pencegahan kehamilanë remaja.
Secara praktis pengalaman pribadi dan penghargaan meningkatkan kapabilitas dan kesempatan tokoh agama dalan menyampaikan pesan edukasi pencegahan kehamilan remaja. Berkaitan dengan strategi komunikasi terdapat tiga temuan penting yaitu berkaitan dengan isi pesan, pemilihan metode dan penggunaan media.
Isi pesan tokoh agama berfokus pada pentingnya pendidikan, moralitas, kesiapan pernikahan, dan penguatan pemahaman agama. Tokoh agama menggunakan metode tradisional seperti ceramah dan metode modern seperti media sosial, selain itu juga menggunakan pendekatan personal dan kreatif seperti diskusi, kegiatan non-formal, dan pembinaan yang berkesinambungan untuk memastikan remaja terus mendapatkan arahan yang positif.
Terdapat kebutuhan dalam meningkatkan komunikasi antara tokoh agama dan remaja untuk mengurangi rasa sungkan dan meningkatkan frekuensi interaksi. Strategi gabungan antara media digital dan ceramah langsung diharapkan dapat memenuhi kebutuhan akses informasi yang mudah sekaligus memberikan penguatan pesan edukasi pencegahan kehamilan dan dukungan personal bagi remaja.
Mahasiswa yang dibimbing oleh promotor Dr. Lutfi Agus Salim, S.KM., M.Si (Ketua Koalisi Kependudukan Jatim) dan kopromotor Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si (Pakar Komunikasi Universitas Airlangga) berharap temuan penelitian disertasi ini dapat mengembalikan peran tokoh agama sebagai penjaga moral di tengah masyarakat khususnya remaja sebagai generasi penerus bangsa. Sejalan dengan teori rogers (2003) bahwa saluran media sosial lebih banyak digunakan untuk komunikasi informatif tetapi untuk perubahan perilaku interaksi langsung masih memegang peranan penting.
Selain itu, terdapat potensi kejenuhan akibat digitalisasi (penggunaan gadget berlebihan) menunjukkan perlunya keseimbangan melalui kegiatan offline, seperti percakapan langsung atau aktivitas komunitas, yang membantu remaja mengatasi kelelahan digital dan meningkatkan keseimbangan emosional.
Interaksi langsung tetap unggul dalam membangun hubungan emosional dan komunikasi yang mendalam, melengkapi potensi media sosial sebagai alat dakwah.
Hasil disertasi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji Ujian Doktor Tahap I (Tertutup) pada tanggal 09 Januari 2025 lalu dan telah dijadwalkan UDT Insya Allah tanggal 28 Februari 2025 mendatang. Semoga dengan masukan-masukan dari penguji semakin memperbaiki kualitas penelitian ini sehingga dapat diterapkan dalam upaya pencegahan kehamilan remaja khususnya di Masyarat pesisir Mamuju Sulawesi Barat serta menjadi model komunikasi yang relevan dalam konteks Indonesia secara umum.